penilaian hutan

Makalah Penilaian Hutan                                                                       Medan, 29 September 2019       
PEMANFAATAN NILAI EKONOMI KEHUTANAN REBUNG
(TUNAS BAMBU)


Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si.

Disusun Oleh :
Tijana Lestari Siregar
171201201
MNH 5





















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
          Puji syukur  penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini. Makalah yang berjudul “Pemanfaatan Nilai Ekonomis Kehutanan Rebung (Tunas Bambu)” ini dibuat untuk memenuhi syarat tugas bagi mahasiswa di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Makalah ini memuat  keterangan mengenai pemanfaatan nilai ekonomis kehutanan Rebung (Tunas Bambu) Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Penilaian Hutan, bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si, serta teman-teman di lingkungan kampus yang telah ikut serta membantu dalam penyelesaian makalah ini dengan memberikan ide dan dorongan semangat.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis.


Medan, 29 September 2019


                                                                                                               Penulis











BAB I
PENDAHUUAN
1.1  Latar Belakang

Rebung merupakan tunas muda yang tumbuh dari akar bambu dan banyak dimanfaatkan masyarakat untuk dikonsumsi menjadi sayuran ataupun produk lainnya dalam kehidupan sehari- hari. Rebung mempunyai rasa yang enak, gurih, dan manis sehingga rebung menjadi salah satu jenis sayur yang digemari oleh masyarakat. Rebung memiliki rasa yang enak, gurih, manis, dan memiliki kandungan gizi yang cukup baik, ternyata rebung juga memiliki kandungan racun yaitu kandungan asam sianida (HCN). Rebung yang memiliki kandungan racun asam sianida yang tinggi itu ditandai dengan rasanya yang pahit (Jenny dan Indrawati, 2017).
Bagi orang Cina rebung merupakan komoditi penting karena menjadi salah satu menu pokok harian. Konsumsi rebungdi seluruh dunia sekitar dua juta ton/tahun dengan konsumsi terbesar adalah Cina, yakni 1,3 juta ton/tahun. Pada tahun 2011 volume ekspor rebung kalengan dari Cina menempati posisi teratas, yakni sebanyak 143.000 ton, disusul Thailand 68.000 ton, dan Taiwan 18.500 ton. Di Taiwan, nilai ekspor rebung bambu semula berjumlah 4 juta $ US per tahun antara tahun 1975-1980. Di Indonesia, daerah yang paling banyak memanfaatkan rebung adalah Semarang, dengan makanan khasnya yang cukup terkenal yaitu lumpia (Widiarti, 2013).
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan deskripsi dari rebung bambu?
2. Apa nilai ekonomi dari rebung bambu dan bagaimana cara pemanfaatannya ?
3. Bagaimana cara pembudidayaan rebung bambu ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui deskripsi dari rebung bambu.
2. Untuk mengetahui nilai ekonomi dari rebung bambu dan cara pemanfaatannya.
3. Untuk mengetahui cara pembudidayaan rebung bambu.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi dari Rebung Bambu
Menurut klasifikasi botani, tanaman bambu termasuk kelas Monocotyle doneae, ordo Graminales, subfamili Dendrocalamae, genus Dendrocalamus, spesies Dendrocalamus asper. Pemanenan rebung dapat dilakukan sepanjang tahun. Panen raya rebung terjadi pada musim hujan, yaitu antara bulan Desember-Februari. Biasanya rebung dipanen saat tingginya telah mencapai 20 cm dari permukaan tanah, dengan diameter batang sekitar 7 cm. Apabila terlambat dipanen, dalam 2-4 bulan saja rebung sudah menjadi tanaman bambu lengkap.
Biasanya rebung yang diambil adalah rebung yang tidak bisa tumbuh dewasa. Tidak semua rebung yang tumbuh dapat hidup menjadi bambu dewasa. Pada kalanya rebung yang telah berumur beberapa minggu, berhenti tumbuh dan akhirnya mati. Masyarakat pedesaan sudah paham jenis rebung yang tidak bisa tumbuh dewasa, sehingga harus dipanen ketika muda. Namun, bila tidak ada, rebung yang mana pun dapat diambil untuk sayuran.
2.2 Nilai Ekonomi dari Rebung Bambu dan Cara Pemanfaatannya
Terdapat 145 jenis spesies bambu asli Indonesia. Dari jenis-jenis tersebut terdapat beberapa jenis bambu yang rebung bisa dikonsumsi dan bernilai ekonomis tinggi seperti bambu betung, bambu legi, bambu andong, bambu mayan, dan bambu tabah. Bambu tabah merupakan bambu yang paling menjanjikan untuk diproduksi rebungnya. Rebung bambu tabah disukai karena rasanya enak dan tidak pahit, tidak seperti rebung bambu betung. Oleh sebab itu bambu tabah potensial untuk dikebunkan. Bambu tabah akan bertunas pada umur 3 tahun setelah tanam. Setiap hektar bambu tabah mampu menghasilkan 3 ton rebung bersih per tahun dengan rata-rata produksi satu rumpun 60 kg rebung kupas per tahun.
Riset pasar atau riset pemasaran merupakan suatu fungsi yang menghubungkan konsumen, pelanggan, dan masyarakat dengan para pemasar melalui informasi-informasi yang digunakan untuk mengidentifikasikan peluang dan masakah pemasaran, menghasilkan, menyaring, dan mengevaluasi aktivitas-aktivitas pemasaran, memonitor kinerja pemasaran, dan meningkatkan pemahaman atas pemasaran sebagai suatu proses. Informasi-informasi yang dapat diperoleh pada riset pasar adalah :
1.        Menciptakan ide-ide untuk aktivitas-aktivitas pemasaran, termasuk identifikasi masalah dan peluang pemasaran.
2.        Mengevaluasi aktivitas pemasaran.
3.        Membandingkan kinerja vs pemasaran dan ;
4.        Meningkatkan pemahaman umum mengenai fenomena dan proses pemasaran.
Selain digunakan sebagai bahan bangunan, kerajinan tangan, dan sebagainya, bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dalam bentuk rebung. Jenis-jenis tertentu rebungnya dapat dimakan karena kadar HCN kecil atau sama sekali tidak ada, rasanya memenuhi selera, lunak dan warnanya menarik. Kandungan gizinya cukup memadai sebagai sumber mineral dan vitamin.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2011, Indonesia mengimpor 139.527 kg rebung bambu dengan nilai mencapai US$ 100.633 atau setara dengan Rp 9,6 miliar (1 US$ = Rp 9.600,-). Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2010 Indonesia mengimpor rebung sebanyak 125,463 kg dengan nilai Rp 907 juta. Data BPS menunjukkan hingga Oktober 2012, Indonesia mengimpor 68.890 kg setara Rp 6,6 miliar. Seluruh pasokan rebung bambu datang dari China.
2.3 Pembudidayaan Rebung Bambu
Rebung, tunas bambu atau disebut juga trubus bambu merupakan kuncup bambu muda yang muncul dari dalam tanah yang berasal dari akar rhizom maupun buku-bukunya. Rebung merupakan anakan dari bambu, rebung yang masih bisa kita konsumsi sebagai sayur berumur kerkisar 1-5 bulan. Rebung dapat difanfaatkan sebagai bahan pangan yang tergolong kedalam jenis sayur-sayuran. Tidak semua jenis bambu dapat dimanfaatkan rebungnya untuk bahan pangan, karena rasanya yang pahit.
Mempertimbangkan iklim dalam memilih jenis bambu yang akan diusahakan sangat penting. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson dikenal iklim dengan tipe-tipe hujan A, B, C, D, E, dan F. Makin basah iklim (A) makain banyak jenis bambu yang dapat dipilih dan sebaliknya makin kering (F) makin berkurang jenis bambu yang dapat dipilih. Iklim yang cocok untuk mengusahakan bambu adalah tipe iklim hujan A dan B dimana semua jenis bambu dapat tumbuh. Sedangkan pada tipe iklim C dan D atau lahan marjinal yang sering kenjiran/tergenang air sebaiknya ditanam jenis-jenis bambu ampel kuning (B. vulgaris v. striata), bambu ampel hijau (B. vulgaris v. vitata) dan bambu ori (B. blumeana).
Lahan yang akan ditanami bambu dapat di lahan kering yang tidak pernah tergenang air atau lahan basah yaitu tanah-tanah yang sering atau sesekali tergenang air. Jenis-jenis yang harus di lahan kering adalah dari kelompok Dendrocalamus dan Gigantochloa seprti bambu petung (D. asper), bambu apus (G. apus), bambu legi (G.atter), dan bambu surat (G. pseudoarundinacae). Sedangkan jenis-jenis bambu yang dapat ditanam di lahan basah adalah kelompok Bambusa seperti bambu ampel gading (B. vulgaris v. striata), bambu ampel hijau (B. vulgaris v. vitata) dan bambu ori (B. blumeana). Kelompok Bambusa selain dapat di tanam di lahan basah juga dapat ditanam di lahan kering.
Di Jepang, China, dan Thailand, bambu telah dikebunkan secara serius. Jarak tanamnya diatur rapi. Lahan di bawah tegakan bambu itu bersih. Dalam satu rumpun bambu hanya akan dipelihara maksimal 5 batang. Karena kebun bambu ini memperoleh pengairan, maka panen rebung bisa dilakukan secara teratur sepanjang tahun. Kecuali di kawasan sub tropis (bersalju), yang panen rebungnya ditentukan oleh musim. Bukan oleh faktor pengairan.
Pada musim dingin, tanaman bambu akan menjalani istirahat panjang (dorman). Begitu musim semi tiba, maka rebung pun akan bermunculan. Meskipun diberi pengairan cukup, panen rebung di kawasan sub tropis hanya akan terjadi sekali dalam setahun. Di kawasan tropis, bambu akan mampu menghasilkan rebung sepanjang tahun, asal airnya cukup. Secara alamiah, pada musim kemarau, bambu di kawasan tropis juga akan mengalami masa istirahat. Namun pada saat itu sinar matahari justru sedang optimal. Hingga dengan adanya air irigasi, maka produktivitas rebung justru akan lebih tinggi pada musim kemarau tersebut.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut klasifikasi botani, tanaman bambu termasuk kelas Monocotyle doneae, ordo Graminales, subfamili Dendrocalamae, genus Dendrocalamus, spesies Dendrocalamus asper. Rebung dapat difanfaatkan sebagai bahan pangan yang tergolong kedalam jenis sayur-sayuran. Tidak semua jenis bambu dapat dimanfaatkan rebungnya untuk bahan pangan, karena rasanya yang pahit.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2011, Indonesia mengimpor 139.527 kg rebung bambu dengan nilai mencapai US$ 100.633 atau setara dengan Rp 9,6 miliar (1 US$ = Rp 9.600,-). Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2010 Indonesia mengimpor rebung sebanyak 125,463 kg dengan nilai Rp 907 juta. Data BPS menunjukkan hingga Oktober 2012, Indonesia mengimpor 68.890 kg setara Rp 6,6 miliar. Seluruh pasokan rebung bambu datang dari China.
Di kawasan tropis, bambu akan mampu menghasilkan rebung sepanjang tahun, asal airnya cukup. Secara alamiah, pada musim kemarau, bambu di kawasan tropis juga akan mengalami masa istirahat. Namun pada saat itu sinar matahari justru sedang optimal. Hingga dengan adanya air irigasi, maka produktivitas rebung justru akan lebih tinggi pada musim kemarau tersebut.
       
DAFTAR PUSTAKA
Haryanai, M., Widawati, L., dan Sari, R. 2014. Tepung Rebung Termodifikasi Sebagai Substituen Terigu pada Pembuatan Donat Kaya Serat. Agritepa.1 (1) : 75-84.

Jenny, G., dan Indrawati, R. 2017. Analisis Kadar Asam Sianida pada Rebung Bambu Sebelum dan Sesudah Pengukusan Selama 10, 15, Dan 20 Menit Metode Elektroda Selektif Ion. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa.
1 (1) : 13-16.

Rachmadi, T. 2011. Pemanfaatan Fermentasi Rebung untuk Bahan Suplemen Pangan dan Tepung Serat. Jurnal Riset Industri Hasil Hutan. 3 (1) : 37-41.

Widiarti, A. 2013. Pengusahaan Rebung Bambu oleh Masyarakat, Studi Kasus di Kabupaten Demak dan Wonosobo. Jurnal Prodition Hutan dan Konservasi Alam. 10 (1) : 51-61.

Komentar

  1. Terima kasih mbak sangat membantu

    BalasHapus
  2. Terima kasih sangat bermanfaat

    BalasHapus
  3. Mantap iboto , informasi yg sangat bermanfaat . Saran saya , bahan makalah ini terus dikembangkan untuk pembudidayaan bambu yg baik sehingga menghasillan rebung dg nilai jual yg bermanfaat bagi masyarakat luas .

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Masyaa Allah, sangat bermanfaat, idenya bagus saya suka.. ditunggu blog selanjutnya yaa..

    BalasHapus
  6. wahh, terimakasih infonya kakak, selain sebagai jasa lingkungan ternyata bambu juga bisa dimakan hehe, ditunggu blog selanjutnya kakak

    BalasHapus
  7. Nice, semoga blog ini bermanfaat. Sukses terus kak

    BalasHapus
  8. Blog ini sangat membantu, jadi tau apa aja nilai ekonomi dari rebung

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjaga Hutan: Tanggung Jawab Bersama untuk Kehidupan yang Lestari